Burundi, Negara yang Merintih dalam Kemiskinan yang Dalam


JAKARTA – Burundi, sebuah negara kecil yang terletak di Afrika Timur, mungkin tidak terlalu dikenal oleh banyak orang di seluruh dunia. Namun, di balik ketidaktersediaannya dalam sorotan internasional, Burundi telah menjadi sorotan sebagai salah satu negara termiskin di dunia. 

Menurut laporan analisis yang dirilis oleh Bank Dunia, IMF, dan berbagai lembaga resmi lainnya selama 62 tahun terakhir, Burundi secara konsisten menduduki peringkat terbawah dalam daftar negara terkaya di dunia. Kondisi ini menciptakan tantangan yang serius bagi penduduknya yang berjuang untuk bertahan hidup.

Dengan populasi sekitar 12,5 juta orang, Burundi adalah salah satu negara dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi. Tingkat kemiskinan yang mendalam ini bahkan mengakibatkan negara ini mendapat julukan sebagai negara yang paling tidak bahagia di dunia. 

Pendapatan tahunan rata-rata seorang warga Burundi hanya sekitar 180 dolar AS, angka yang jauh di bawah garis kemiskinan global. Belum lagi, tingkat pengangguran yang tinggi menjadi masalah serius, di mana sekitar satu dari tiga penduduk dianggap menganggur.

Ketika menginjakkan kaki di Bandara Internasional Bujumbura, satu-satunya bandara di negara ini yang memiliki landasan pacu aspal, para pengunjung seringkali disambut oleh pemandangan yang mengagetkan. Salah satunya adalah informasi yang ditampilkan di layar yang menggunakan versi demo sistem operasi untuk menghindari pembayaran lisensi. 

Namun, pemandangan yang lebih mengguncang adalah ketika para pengunjung melihat sekelompok anak-anak yang berdiri di sekitar anjing yang tertabrak oleh mobil di jalan. Ini adalah gambaran kehidupan yang keras yang harus dihadapi oleh anak-anak Burundi setiap hari.

Sebagian besar penduduk Burundi, sekitar 90%, menggantungkan mata pencaharian mereka pada pertanian. Namun, geografi negara ini yang sebagian besar berbukit dan berlimpah gunung-gunung membuat produksi pangan menjadi sulit. Ini adalah salah satu alasan mengapa petani di Burundi sering kali mengalami kesulitan untuk menyediakan cukup makanan bagi penduduknya yang berjumlah 12,5 juta orang. Kota terbesar di Burundi, Bujumbura, hanya memiliki populasi sekitar 380.000 orang.

Di tengah kemiskinan yang mendalam ini, anak-anak adalah pemandangan umum di seluruh negeri. Sekitar 65% dari populasi negara ini berusia di bawah 25 tahun, dan 45% di antaranya berusia di bawah 15 tahun. Ini menunjukkan betapa muda dan besar potensi penduduk Burundi, tetapi juga menyoroti tantangan yang mereka hadapi dalam hal pendidikan dan peluang pekerjaan.

Kehidupan di Burundi sangat sulit. Akses listrik hanya dimiliki oleh 7,6% penduduknya, dan bahkan pada tahun 2021, sebagian besar warga negara ini masih belum menggunakan smartphone. Teknologi yang umum di negara-negara lain hampir tidak ada di sini, dan infrastruktur ekonominya jauh dari cukup.

Selain itu, akses ke perawatan kesehatan yang memadai juga merupakan masalah serius di Burundi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, hanya ada satu dokter untuk setiap 35.000 orang, dan sekitar 2 juta orang yang tinggal di negara ini belum pernah pergi ke rumah sakit sepanjang hidup mereka. Masalah kesehatan seperti malnutrisi, penyakit menular, dan masalah kesehatan lainnya sering mengancam penduduk Burundi yang berjuang untuk bertahan hidup.

Namun, meskipun semua kesulitan ini, penduduk Burundi tetap berjuang keras untuk bertahan hidup. Mereka berusaha mengatasi berbagai masalah dan mencari penghidupan dengan cara yang mereka bisa. Di tengah kemiskinan yang mendalam, mereka menemukan cara untuk tetap bersatu, bekerja, dan berharap untuk masa depan yang lebih baik.

Kehidupan di Burundi bukan hanya tentang kemiskinan dan tantangan yang dihadapi oleh penduduknya. Ini juga tentang ketahanan dan semangat perjuangan mereka untuk melanjutkan kehidupan mereka. Di tengah semua kesulitan ini, mereka menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana seperti bermain, berdoa, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam situasi yang sangat sulit ini, mungkin saatnya dunia memberikan lebih banyak perhatian dan dukungan kepada Burundi dan rakyatnya yang berjuang untuk hidup. Kesaksian ini mengingatkan kita bahwa ada banyak tempat di dunia ini di mana kehidupan begitu keras dan kita semua dapat berperan dalam membantu menciptakan perubahan positif untuk mereka. Dengan meningkatkan kesadaran tentang kondisi di Burundi, kita dapat membantu membuka pintu untuk bantuan dan solusi yang lebih besar guna membantu penduduk negara ini keluar dari kemiskinan yang telah mereka alami begitu lama.

MTB

Jurnalis bisnis dan ekonomi di salah satu media nasional. Saya menulis soal kewirausahaan, finansial, saham, hukum bisnis,dan hal-hal menarik lainnya. Meraih gelar MBA dari SBM ITB.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال