Review Film Dirty Vote: Antara Demokrasi dan Kecurangan

JAKARTA – Indonesia, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, memiliki dinamika politik yang kompleks dan penuh tantangan. Perjalanan demokrasi di negeri ini sarat dengan berbagai episode, mulai dari pemilihan umum (Pemilu) yang dianggap sebagai pesta demokrasi, hingga isu kecurangan yang kerap merusak esensi dari demokrasi itu sendiri. 

Film "Dirty Vote" mencoba mengupas tuntas fenomena ini, memberikan perspektif mendalam tentang bagaimana kecurangan dan manipulasi bisa terjadi dalam sebuah sistem yang seharusnya menjunjung tinggi kehendak rakyat.


Latar Belakang Dinamika Politik

Dinamika politik di Indonesia tidak lepas dari sejarah panjang perjalanan bangsa ini dalam mencari formula terbaik dalam berdemokrasi. Mulai dari era Orde Lama, Orde Baru, hingga reformasi, setiap periode memiliki ciri khasnya sendiri dalam menyelenggarakan Pemilu. 

Reformasi 1998 menjadi titik balik penting dengan lahirnya harapan baru untuk demokrasi yang lebih bersih dan adil. Namun, jalan menuju demokrasi ideal tidak pernah mulus. Setiap Pemilu selalu diwarnai dengan berbagai isu, mulai dari politik uang, manipulasi data pemilih, hingga penyalahgunaan wewenang.


Fenomena "Dirty Vote"

Film "Dirty Vote" mencerminkan salah satu masalah krusial dalam dinamika politik Indonesia, yakni kecurangan Pemilu. Melalui narasi yang kuat, film ini menggambarkan bagaimana kepentingan politik tertentu bisa menggerogoti prinsip dasar demokrasi. 

Dari manipulasi survei, intervensi pihak berwenang, hingga penyalahgunaan bansos untuk kampanye, menjadi bukti nyata bahwa Pemilu tidak selalu menjadi wujud nyata dari aspirasi rakyat.


Peran Tokoh dan Institusi

Salah satu aspek penting yang diangkat dalam "Dirty Vote" adalah peran berbagai tokoh dan institusi dalam dinamika Pemilu. Figur seperti Jokowi dan Gibran Rakabuming, misalnya, menjadi simbol bagaimana politik dinasti bisa mempengaruhi arah politik nasional. 

Sementara itu, institusi seperti KPU, Bawaslu, hingga Mahkamah Konstitusi, yang seharusnya menjadi penjaga integritas Pemilu, terkadang ditemukan memiliki celah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.


Kecurangan Sistematis dan Masif

"Dirty Vote" mengungkap bahwa kecurangan dalam Pemilu di Indonesia seringkali terstruktur, sistematis, dan masif. Hal ini tidak hanya terjadi pada level eksekusi, seperti penghitungan suara, tetapi juga pada level perencanaan dan strategi. 

Kecurangan menjadi semacam "rahasia umum" yang sulit untuk dihilangkan, mengingat banyaknya pihak yang memiliki kepentingan dalam hasil Pemilu.


Refleksi dan Harapan

Melalui kisah dalam "Dirty Vote", penonton diajak untuk merefleksikan kembali esensi dari demokrasi. Demokrasi seharusnya menjadi alat untuk mewujudkan kehendak rakyat, bukan sebagai arena pertarungan kepentingan politik yang mengabaikan suara rakyat. 

Film ini menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk demokrasi yang lebih bersih dan adil adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau penyelenggara Pemilu, tetapi juga masyarakat luas.

Dinamika politik di Indonesia masih akan terus berkembang. Tantangan untuk menciptakan Pemilu yang bersih dan adil masih akan terus ada. Namun, dengan kesadaran kolektif dan partisipasi aktif dari seluruh elemen bangsa, harapan untuk demokrasi yang lebih baik masih terbuka lebar. 

"Dirty Vote" bukan hanya sekedar film, tetapi juga sebuah panggilan untuk semua pihak agar lebih peduli dan terlibat dalam proses demokrasi di Indonesia.

MTB

Jurnalis bisnis dan ekonomi di salah satu media nasional. Saya menulis soal kewirausahaan, finansial, saham, hukum bisnis,dan hal-hal menarik lainnya. Meraih gelar MBA dari SBM ITB.

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال